Ia menyatakan bahwa politisasi ilmu pengetahuan dan dunia akademik menjadi ciri menurunnya kualitas Demokrasi berikutnya.
Dunia akademisi kampus saat ini lebih didominasi oleh urusan teknis seputar borang akreditasi, urusan SPJ penelitian. “Urusan teknis ketimbang bergelut dengan data riset, diskusi ilmiah nasional dan internasional seperti yang dengan nyaman dilakukan oleh para ilmuwan dan akademisi di luar negeri.” Ujarnya.
“Hal itu menjadi semakin runyam ketika kini para akademisi diwajibkan melakukan apel pagi setiap jam 10.00 meski pada jam yang sama ada jadwal mengajar.” Katanya.
Prof. Didik J. Racbini menyatakan keprihatinannya terhadap masalah kebebasan akademik di kampus-kampus Indonesia mulai merosot seiring dileburnya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan lembaga ilmiah lainnya di bawah BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional)
“Bukanlah satu keputusan akademis yang berasal dari kajian ilmiah yang bersandar pada kebenaran ilmiah, tetapi lebih merupakan sebuah keputusan politik kekuasaan yang mengabaikan aspek kebebasan dan kebenaran ilmiah.”
Didik menyoroti bahwa hal ini menjadi sebuah masalah yang sangat serius dan perlu dipertanyakan. Karena satu kebenaran ilmiah tidak boleh dicampuri oleh kekuasaan politik darimanapun asalnya.
